Thursday, May 2, 2013

Yang kecil yang berbagi.

Suara klakson terdengar menyambut pagi, sebagai tanda bahwa hingar bingar dan hiruk pikuk kota hari ini dimulai.
Sederetan pekerja telah berdiri di bibir jalan dan sebagian berada di halte busway. tak sedikit pula yang ada di ujung belokan menanti alat transportasi umum. Berantakan sekali!!! Seolah olah mereka tak tahu fungsi halte.

Ya.
Inilah Jakarta yang konon kata mereka keras. Mereka yang semalam mengeluh tentang macetnya Ibukota pada jam pulang kantor namun tetap memilih bertahan dan berdiri disini hingga hari ini.

Hmmmfffhhhhh...
Aku menarik nafas panjang. Aku menjadi bagian dari orang-orang yang kubicarakan tadi. Semalam aku baru saja memaki kota ini akibat kemacetan yang kutempuh hingga 4 jam saat pulang bekerja. Pagi ini, aku duduk di sebuah taksi yang akan kembali membawaku ke kantor.

Lampu merah menyala. Aku mendengus kesal karena akan terjadi insiden klakson menglakson menjelang lampu ini beralih menjadi hijau. Entah mengapa suara klakson yang bersahutan benar-benar membuatku makin emosi. Andai ini negara yang berhukum rimba, aku akan turun dan mencolok dua bola mata mereka dengan jari. Percuma rasanya mereka mempunyai mata namun sudah menglakson jauh sebelum lampu hijau benar benar menyala.

Di lampu merah ini aku sering melihat seorang anak laki-laki yang mungkin usianya sekitar sebelas tahunan. Aku sering tersenyum melihatnya. Dia menjajakan korannya dengan sangat bersemangat. Berlari kecil dari satu kaca mobil ke kaca yang lain. Aku tengah melihatnya sudah menjajakan pada 7 kaca mobil namun tak satupun laku. Dia tetap tersenyum. Dan terus berlari. Hingga akhirnya sampai pada kaca mobil taksi yang kunaiki. Aku membuka jendela. Dan mengambil sepuluh uang dua ribuan baru milikku. Ia memberikan korannya..
"Dek, bawa aja korannya. Itu buat jajan"
"Makasih kak"
sejenak aku teringat adikku yang biasa memanggilku dengan sebutan kak.
Entah mengapa aku seolah sering memerhatikan dia. Si penjaja koran bertopi hijau. Dia sering menularkan semangatnya secara tidak langsung setiap aku melewati jalan ini saat pagi hari.
bersamaan dengan itu dia berlari kearah suara klakson yang keras didepan sana. Aku memerhatikannya. ia masih menggenggam erat dua puluh ribu yang kuberikan tadi. Ia mendatangi seorang bapak tua tunanetra yang baru saja ditabrak motor. Aku memerhatikannya. Menolong dan Menyeberangkan bapak tua itu, mendudukkannya dan mengusap darah di kening bapak tua tersebut. Hingga akhirnya dia memindahkan sepuluh lembar dua ribuan baru yang digenggamnya ke saku kemeja batik bapak tua bertongkat tersebut. Ia berlari, dari satu mobil ke mobil yang lain lagi. Menjajakan korannya dengan riang dan tetap tersenyum....

-Jakarta, 2 Mei 2013-

No comments:

Post a Comment